Senin, 07 Januari 2013

Kesenian Gambang Semarang : Perpaduan Budaya Jawa dan Cina

Semarang - Gambang Semarang adalah salah satu dari sekian banyak kesenian yang ada di Kota Semarang. Dalam setiap pertunjukannya, Gambang Semarang selalu menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Karena telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, Gambang Semarang mengalami banyak dinamika. Namun perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu. 



Model dan warna baju merupakan lambang budaya Cina,
sedangkan kain sarung Semarangan merupakan budaya dari Jawa



Awal mulanya, kesenian ini berasal dari Gambang Kromong Jakarta yang dibawa oleh keturunan Cina bernama Lie Hoo Soen (anggota Volksraad / Dewan Rakyat Semarang pada masanya). Setelah mendapatkan persetujuan walikota Semarang, yang saat itu dijabat oleh Boesevain, Lie Hoo Soen kemudian membeli alat musik Gambang Kromong dan mengadakan pelatihan. Kemudian menyelenggarakan pementasan untuk yang pertama kalinya di tahun 1932.

Pada kesenian campuran (seni musik, vokal, tari, dan lawak) ini, terdapat dua perpaduan antara budaya Jawa dan Cina. Alat musiknya sendiri menggunakan instrumen Jawa (bonang, gong) dan instrumen dari Cina (kongahyan, sukong, suling). Para penari dan penyanyinya pun mengenakan kain sarung Semarangan dan kebaya encim. Encim merupakan kebaya tradisional Jawa yang telah dimodifikasi oleh keturunan Cina di Indonesia.

Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata. Selain memiliki alkulturasi, Gambang Semarang juga merupakan kesenian yang di dalamnya tidak terdapat waton. Waton adalah kesepakatan yang diterima sebagai patokan dalam menari. Jadi setiap orang berhak untuk menciptakan Gambang Semarang sesuai dengan koreografi masing-masing, dengan tidak meninggalkan unsur-unsur yang terdapat dalam kesenian Gambang Semarang.






Sumber : Gambang Semarang Art Company

12 komentar:

  1. Lagu yg judulnya "Gambang Semarang" jg kental akulturasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak gini nih anak muda yang langka, tidak "meninggalkan" kesenian tradisional :D

      Hapus
  2. nice post kaka, font nya dong tolong di atur lagi :)

    BalasHapus
  3. tapi perkembangan gambang semarang sekarang bagaimana ya? sepertinya anak muda sekarang lebih menyukai tarian hip hop daripada tarian tradisional

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Gambang Semarang juga merupakan kesenian yang di dalamnya tidak terdapat waton. Waton adalah kesepakatan yang diterima sebagai patokan dalam menari. Jadi setiap orang berhak untuk menciptakan Gambang Semarang sesuai dengan koreografi masing-masing, dengan tidak meninggalkan unsur-unsur yang terdapat dalam kesenian Gambang Semarang". Jadi gambang semarang bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman :3

      Hapus
  4. Waw, judulnya panjang sekalee..hoho. Tapi infonya bagus banget. Aku suka tulisan tentang kebudayaan. Semoga berkesempatan menonton pertunjukannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja dibikin panjang hehe :p
      kalo kamu berminat gabung buat memperdalam gambang semarang, aku ada CPnya nih~

      Hapus
  5. semoga dengan info ini, banyak yang tertarik ikut bergabung dengan kesenian ini

    BalasHapus
  6. aku tuh yaa.. bener2 bangga dan jatuh cinta sama kesenian Jawa, yg ternyata perpaduan dr berbagai budaya. nice inpoh, sist :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih~
      btw, mbaknya kan asli semarang tuh, sebelumnya tau gambang semarang nggak? :3

      Hapus